Monumen Penyesalan yang Tak Pernah diungkapkan
Dari sekian banyak hal yang aku takutkan adalah ibuku berteriak padaku: “nak, maafkan ibuk dan bapakmu. Kami tidak bisa memenuhi apa yang kamu mau”. Tapi aku tak pernah dengar kata itu. Kata itu hanya sampai pada perdebatan isi kepalaku. Kata itu hanya sampai angan yang menemaniku. Kata itu juga yang membuatku mengatakan: “jika saja takdir dapat diukir, aku tak akan pernah meminta untuk lahir!”
Kenapa perdebatan isi kepala?
Ya, aku akan menceritakannya: setiap kali aku tengah mengguyur tubuhku dengan air, aku melihat penggosok gigi yang tidak tahu berapa lama terletak di tempat yang sama. Sabun mandi yang kadangkala hanya sebatas seperti batu karang. Shampo? Mungkin ketika punya uang. Malahan, tidak ada pasta gigi. Mungkin hanya sebatang siwak, atau bahkan menyikat gigi tanpa pasta. Tapi ketika aku pulang, ibuk diam-diam membeli shampo, sabun mandi, dan pasta gigi.
Bagi sebagian dan mungkin banyak orang, itu adalah suatu hal yang jorok. Alih-alih bahkan menganggap itu merupakan menjijikkan. Tapi persetan-lah, walaupun itu cuman cerita yang aku buat-buat. Itu adalah suatu yang aku pikirkan, dan menjadi pertengkaran pikiran. Tapi kadang-kadang, perasaan membawa semacam shampo, sabun cair, dan pasta gigi sampai pada kamar mandi di rumah adalah suatu kebahagiaan. Bahwa ada yang lebih layak untuk dipakai.
Tidak hanya sampai pada kebutuhan untuk membersihkan tubuh. Aku kadang-kadang juga merasakan bahwa memasak, atau memakan makanan yang ada di rumah untuk sekedar mengambil lauk yang sekiranya cukup buat porsiku; tidak kurang, dan tidak lebih. Kira-kira ‘pass’. Hal ini karena tidak lain adalah aku merasakan hidup di perantauan, walaupun jaraknya tidak terlalu jauh (Jombang-Tulungagung). Aku merasakan, kadang-kadang dalam sehari saja belanja untuk makan menghabiskan sampai Rp. 20.000 hingga Rp. 30.000, ini pun hanya untuk satu hari kalau ingin makan enak. Belum lagi perubahan harga cabai, bawang putih, bawang merah, dan lain sebagainya; memungkinkan tidak cukup untuk uang segitu.
Oleh karena itu, mungkin aku merasa bahwa tidak boleh makan lebih (walaupun kalau di rumah yang banyak makan adalah aku). Tapi aku merasa, ibuku belum makan, adekku juga belum makan, bapak juga. Besok cukup ngga ya buat belanja lagi?!
Aku tidak ingin terlalu banyak meromantisasi kehidupan di keluargaku. Yang ingin aku katakan adalah bahwa hidup di tengah finansial harus terpenuhi adalah suatu kewajiban; entah itu kebutuhan primer, tersier, sekunder.
Ya, begitu panjang memang perdebatan isi kepala. perlu diingat kembali, itu hanya perdebatan isi kepala!
Padahal toh sejelek apapun sikapnya bapak dan ibuk kepadaku, seringkali mengusahakan anaknya untuk tetap bisa terpenuhi akan makanan, pendidikan, dan masa depan. Sedangkan aku? Masa depan saja tidak punya (hahaha).
Aku lebih nyaman menulis, entah apa yang ingin aku ungkapkan. Itu ilmiah atau sekedar curhatan, ah persetanlah. Ini adalah langkahku yang tak dapat diatur oleh manusia di luar diriku (manusia lain).
Banyak sebenarnya yang aku ingin ungkapkan. Termasuk kenapa angan?
Ya, tentu saja. Aku sering berdiskusi bahkan berdebat dengan isi kepalaku untuk menuliskan tentang apa yang terjadi dalam diriku, keaadaan saat ini, tulisan ala-ala ilmiah. Dan angan-angan yang ketika dihadapkan dengan layar laptop dan keyboard; seketika menghilang. Ya ampun...
Tetapi ya sudahlah. Semoga maksudku tersampaikan. Lagi-lagi ini bukan meromantisasi kemiskinan dari keluargaku. Karena di mata dan perasaanku rasanya tidak ada kata miskin dan kaya tuh. tapi...
Dunia ini semacam penjara. Manusia terus berproduksi untuk memenuhi semua kebutuhan untuk bertahan hidup dengan mengabdi pada mesin-mesin. Kehidupan kita dirampas karenanya paling tidak normalnya 8 jam perhari.
Dalam waktu 8 jam itu, kita tidak bisa melakukan seperti yang kita inginkan, misalnya sekedar menanam bibit sayur, atau memberikan makanan pada hewan ternak. Kecuali di luar jam itu. kita dipaksa untuk setiap hari merasakan kehidupan yang penuh dengan monoton: pagi kerja sampai 8 jam, kemudian istirahat, kumpul dengan keluarga (jika tidak merantau), tidur, dan ya, kita mengulanginya lagi.
Ini mengingatkan aku kehidupan di Totto land, dengan kekuatan si bengis Big mom -- film anime One Piece -- merampas hak hidup masyarakat. Dan sekali lagi, hidup layaknya sebagai pekerja; menuruti apa kemauan Big Mom, dan jika tidak ia akan membunuhmu.
Bayangkan saja, Big Mom seperti bos dalam dunia pekerjaan. Jika kamu tidak menuruti apa kata Big Mom, maka kamu akan dikeluarkan dari pekerjaan. Jika sudah dikeluarkan, kamu tidak mampu membiayai hidupmu sendiri. Singkat cerita, kamu akan mati kelaparan!
Cukup. Aku tidak ingin memberikan dimensi kesedihan dan mungkin kamu akan merasakan ‘monumen penyesalan’ seperti yang aku rasakan. Pada akhirnya yang bisa dilakukan adalah kompromis dalam sistem produksi ini yang tiap hari menikam.
Sistem yang terus menikam ini terus berjalan. Ekonomi saat ini sebenarnya adalah tatanan yang baik, adil, masuk akal; seperti yang dikatakan oleh para korporasi tai itu. seakan-akan mereka mampu menciptakan dunia di mana sebagian besar manusia merasa makmur, aman, dan bebas untuk menghabiskan sebagian besar hidup mereka untuk mengejar hal-hal yang mereka anggap benar-benar penting.
Sebaliknya, itu adalah sistem yang mengerikan, di mana bahkan negara-negara terkaya pun tidak dapat menjamin akses ke kebutuhan dasar, seperti: kesehatan, kebutuhan hidup, dan pendidikan bagi sebagian besar warganya, sistem ini terus bekerja dengan buruk. Lalu siapa yang menanggung itu semua? Adalah kita sendiri. Bahwa kerja adalah suatu kewajiban. Miskin dan kaya merupakan bentuk skat yang terus berjalan.
Dan pada akhirnya?
Aku merasakan teriakan ibu yang membentak isi kepalaku: “nak, maafkan ibuk dan bapakmu. Kami tidak bisa memenuhi apa yang kamu mau,” betapapun ibu dan bapak selalu mengusahakan apa yang menjadi kemauanku; tanpa aku meminta, tanpa aku berbicara. Thnks all father n mom, love you more!
(tanpa edit, maaf jika ada typo: soalnya kalo baca lagi bikin sedih)
Komentar
Posting Komentar